Fiersa Besari berkata, Anda akan mencari cara untuk kembali berkelana, meski harus menumpang mobil, mengurangi jatah makan, tidur mengemper, bahkan menghabiskan tabungan. Dan ketika kau tiba di destinasi impianmu, kau tahu semua pengorbanan itu sepadan. Mungkin kalimat ini yang sangat cocok untuk saya.
Alhamdulillah dengan rahmat Allah yang maha kuasa dan berkat dorongan semangat teman-teman saya, sehingga terciptalah momen itu. Momen di mana untuk pertama kalinya saya melihat awan secara dekat, menelusuri hutan rimba, melewati lumpur, menikmati matahari terbit dan terbenam yang tepat di depan mata.
Bagi saya pengalaman tersebut tidak akan pernah saya lupakan. Dengan ijin-Nya dan bermodalkan daypack saya sampai di ketinggian 2.597 m. Tidak pernah terbayang sedikitpun saya akan menjadi salah satu dari banyaknya manusia di atas sana, melaksanakan upacara kemerdekaan 17 agustus dengan khidmat, melihat sang merah putih yang berkibar dengan hebat.
Terharu, bahagia, senang, semuanya bercampur aduk. Banyaknya manusia yang berasal entah dari mana, baik pria maupun wanita, baik tua maupun muda. Semua menjadi satu dalam kata keluarga. Bercengkrama dan tertawa bersama, api yang menyala dengan gembira di malam harinya.
Menikmati indomie, menyeduh secangkir kopi hingga seketika lupa dengan masalah duniawi.
Mungkin benar kata anak muda sekarang, kalau gunung menjadi tempat terbaik untuk pengasingan diri.
Jauh dari hiruk pikuk kota, jauh dari bisingnya klakson yang bersahutan, jauh dari kemacetan yang bikin gerah hingga diri disulut rasa amarah. Sangking tenangnya, seketika saya lupa kalau saya hanyalah mengungsi sementara. Dengan penuh perjuangan, saya dan teman saya berhasil mencapai puncak. Terlebih untuk saya yang perdana, walau sedikit lelah teman-teman saya memberikan energi positif sehingga pendakian kami tidak terasa berat dengan lelucon konyol andalan mereka.
Mendaki dengan cuaca hujan lebat, ditambah keadaan yang gelap. Namun tekad dan semangat membuat perjalanan kami terasa mudah dan cepat. Puncak menjadi dorongan yang kuat agar kami bisa mencapainya dengan segera.
Saat itu, Gunung Salasi Talang dengan segala keindahannya, warna-warni tenda yang menghiasinya. Bendera merah putih yang berkibar dengan hebatnya. Sepertinya Tuhan mengizinkan kami untuk melakukan upacara kemerdekaan dengan khidmat, sehingga diberikan cuaca yang cerah dengan suhu yang tidak terlalu dingin, juga tidak terlalu panas.
Mengapa Gunung Salasi Talang? Karena Salasi Talang disebut gunung yang sangat pas untuk pemula,contohnya seperti saya. Tidak butuh waktu lama mendaki, bahkan jalurnya masih bisa dibilang mudah dan tidak terlalu terjal.
Sepanjang perjalanan juga dikelilingi pemandangan indah, seperti perkebunan teh dan cabai milik warga yang tinggal di kaki gunung Salasi Talang. Dengan segala kasih, melalui cerita ini saya berterima kasih kepada teman-teman saya yang telah menjadi tameng selama pendakian, terima kasih untuk pengalamannya, terima kasih untuk tumpangannya dan terima kasih untuk momennya.
Banyak ilmu yang saya dapat dari mendaki ini, diantaranya solidaritas dan rasa peduli itu sangat penting dimana pun berada, tidak masalah di gunung atau bahkan di kota sekali pun. Tidak boleh egois, dan sikap yang terpenting adalah segalanya, memanusiakan manusia jika ingin dimanusiakan.
Salasi Talang dengan segala rindu dan ceritanya, semoga bisa bertemu lagi di waktu yang tidak ditentukan. Ada yang bilang “Jika ingin tahu lebih jelas sifat asli orang-orang, ajaklah mendaki gunung. Karena di atas sana tak ada yang bisa menyembunyikan karakter aslinya. Jika egois akan egois, jika penakut akan banyak diam, jika pengeluh akan tak berhenti berkeluh kesah sepanjang perjalanan. Disitulah akan mengetahui kekurangan dan kelebihan diri masing-masing. Dan kemudian bisa saling instropeksi diri”.
Menurut saya, kalimat tersebut benar, meskipun tidak sepenuhnya nyata. Sifat dan watak manusia akan berubah jika sudah berbaur dengan alam, yang semula egois, jadi tidak egois. Yang semula penakut, jadi bukan penakut. Yang semula pengeluh, jadi tidak mengeluh. Yang semula tidak bersyukur, jadi jauh merasa bersyukur. Karena belajar dari alam, mencintai alam, dan hidup dekat alam tidak pernah membuatmu gagal.
Artikel ini telah diunggah di Klikwarta.com:
https://www.klikwarta.com/healing-terbaik-adalah-mendaki-gunung-salasi

Komentar
Posting Komentar