Sumber: Pexels.com
Menurut sebagian orang, tempat ternyaman untuk pulang adalah rumah, tempat yang paling tenang adalah kamar. Bagi sebagian orang, cinta yang nyata adalah dari orang tua, yang katanya kasih sayangnya melebihi alam semesta. Tumbuh seiring bertambahnya usia, dewasa yang sedikit bercanda dan luka yang semakin menganga. Mental yang diuji, pikiran yang dibebani, tapi dipaksa kuat sampe detik ini.
Ketika terjebak dalam situasi yang menyakitkan, ketika emosional tidak dapat dikendalikan, tapi keegoisanlah yang menjadi pemenangnya. Enggan berpisah meski nyatanya tak bisa bersama. Tidak semua orang paham bagaimana sakitnya bertahan jadi anak perempuan terakhir di dalam keluarga, apalagi keluarga itu tak utuh (broken home).
Dibilang tak utuh tapi utuh, dibilang tak ada tapi ada, dibilang keluarga tapi hampa. Itulah yang dirasakan oleh Evelyn, gadis kelahiran 2004 yang menduduki kelas 2 SMA di salah satu sekolah negeri kota Padang. Evelyn adalah anak terakhir dari empat bersaudara. Kini di rumah hanya ia sendiri yang tinggal dan menemani orang tuanya, karena tiga saudarinya merantau. Kakak pertamanya yang bekerja sebagai nakes di pulau Jawa tepatnya Depok, kakak keduanya yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi Institut Pertanian Bogor, dan kakak ketiganya yang memutuskan pesantren dari kecil sampai sekarang.
Ia dan kakaknya dari kecil sudah terjebak dalam keluarga toxic yang menguji mental. Punya ayah yang temperamental, emosian, kepala keras, omongannya tidak boleh dibantah, sekalinya marah lampiasinnya ke barang. Hanya satu kelebihan ayahnya yang ia syukuri sampai sekarang, yakni tidak pernah main tangan. Meski ayahnya sudah memasuki tua, tapi emosi ayahnya sangat membara ketika marah.
“Ayah tu parabo, kak. Urangnyo emosian, rada toxic. Kalau nyo ngecek harus di “iyo ” an. Kalau dibantah naiak pitamnyo, padahal yang nyo kecek an tu kadang salah, tapi kalau dibantah nyo berang. Kalau Ibu ko hobi juo malawan, kareh kapalo. Meskipun maksud Ibu ko batua untuak maluruihan yang salah tadi, ayah ko ndak tarimo doh kalau yang dikecek an nyo tadi dibantah. Disinanlah acok tajadi cekcok, akhirnyo bacakak gadang, mulailah ayat mahabihan barang. Macahan piriang, galeh, bahkan kipeh angin”.
(Ayah orangnya pemarah, kak. Emosian, rada toxic. Kalau dia ngomong harus di “iya” in. Kalau dibantah langsung naik pitam, padahal yang dia bilang kadang salah. Tapi, kalau dibantah dia marah. Kalau ibu hobi banget melawan, keras kepala . Walaupun maksud ibu benar untuk meluruskan yang ayah salah bilang tadi. Ayah ga terima kalau yang dia ucapin di bantah. Disinilah sering terjadinya cekcok, akhirnya membenahi hebat, dan mulai lah ayah habisin barang untuk jadi pelampiasannya. Mecahin piring, gelas, bahkan kipas angin sekalipun ). Kata Evelyn mendeskripsikan sifat ayah nya dalam bahasa khas Minang.
Dari kecil ketika melihat orang tuanya cekcok dan mengejar, Evelyn langsung gemetar, dan itu masih sampai detik ini. Meski pun ia sudah memasuki usia dewasa gemetar itu tak pernah hilang. Terlebih lagi, dulu waktu kecil ia selalu bersembunyi di bawah kasur, di dalam lemari, di kamar mandi sangking ketakutannya melihat kemarahan sang ayah. Mereka tidak memandang masalah ekonomi. Bahkan hal-hal kecil yang dirasa tidak masalah pun menjadi pertengkaran. Ayah yang beracun, ga mau dibantah, yang kata kuncinya harus di “iya” kan. Ibu yang keras kepala hingga selalu ngebantah. Disitu lah awal mula percekcokan hingga jadi pertengkaran hebat.
Menurut Evelyn, orang tua nya memang tidak lagi cocok bersama, tapi mereka dengan egoisnya masih bertahan tanpa enggan berpisah meski kata pisah itu sudah sering terucap.. Pada suatu hari pertengkaran hebat terjadi, baru kali itu perdana tetap hebat sampai Evelyn dan ibu nya memutuskan pergi dari rumah. Ia dan ibu nya keluar dari rumah malam hari ketika ayahnya sedang mandi sepulangnya dari bekerja.
Tanpa membawa baju, tanpa mengendarai motor yang ada di rumah. Benar-benar hanya baju sehelai di badan dan beberapa lembar uang. Ia dan ibunya bingung mau pergi kemana karena waktu sudah menunjukkan malam. Ibunya mengajak Evelyn untuk ke rumah saudaranya yang ada di Lubuk Minturun, kota Padang. Tapi Evelyn menolak. Bagi Evelyn, ketika keluarganya ada masalah dan menuntut hebat, cukup hanya keluarga dan tetangganya saja yang tahu. Keluarga besarnya jangan. Selain karena itu aib, Evelyn juga tidak mau terlihat sedih dan dikasihani. Bukan karena gengsi, tapi bagi Evelyn tidak ada di dunia ini yang bisa dipercaya. penyusunannya adalah keluarga sendiri, sekalipun masih ada hubungan darah. Terlepas dari itu semua, Evelyn juga tidak mau menambah beban pikiran keluarganya yang besar.
Padahal ketika pertengkaran hebat itu terjadi, besok paginya adalah jadwal Evelyn mengikuti Ujian Berbasis Komputer (UTBK) untuk seleksi masuk perguruan tinggi. Bukan semangat dan dukungan yang ia dapatkan, tapi tekanan bathin dan tangisan lah yang dihadiahkan oleh Tuhan. Terkadang ia ingin menyalahkan Tuhan, tapi ia sadar kalau ini takdir yang harus ia jalankan.
Ketika Evelyn ingin menyerah dan ingin merantau seperti kakak-kakaknya. Logikanya terus berjalan, ia tak ingin menjadi anak yang egois, ia tak ingin meninggalkan orang tua nya mengelola masa tua dalam kedaan kesepian, terlebih-lebih ketika melihat orang tua nya yang jarang sekali bisa akur, Evelyn rasa inilah takdirnya agar menjadi jinak untuk ibunya, menjadi penenang untuk ayahnya.
Dipaksa jadi kuat oleh keadaan, dipaksa selalu mengerti keadaan tanpa ditanya keadaannya. Tidak ada anak bungsu yang manja, tidak ada anak bungsu yang selalu diturutin pemintaannya, tidak ada anak bungsu yang kelebihan kasih sayang orang tua dan keluarga. Bagi Evelyn, ia dengan segala perbedaan untuk anak bungsu pada umumnya. Level terberatnya adalah saat ia ingin menangis tapi harus ditahan agar terlihat kuat. Ia berharap, bahagia segera menghampirinya, luka segera pergi dengan dramanya. Serta orang tuanya yang akan akur hingga tanah menjadi sanksinya, dan keluarganya yang kembali hidup rukun bak keluarga cemara.
Artikel ini telah diunggah di Klikwarta.com:
https://www.klikwarta.com/hidup-berdamping-dengan-luka

Komentar
Posting Komentar