Langsung ke konten utama

Tabuik Upacara Unik di Pariaman

 


Sumber: Dokumen pribadi

Saat itu, di pantai Gandoriah Pariaman, saya menyaksikan sebuah upacara adat yang tak biasa. Setiap wilayah memiliki tradisi atau perayaan adat masing-masing. Festival Tabuik menjadi salah satu tradisi budaya khas Kota Pariaman, Sumatera Barat.

Tabuik adalah salah satu upacara adat yang berasal dari Minangkabau, kota Pariaman. Tradisi ini dilakukan sebagai peringatan wafatnya cucu Rasulullah, yaitu Husein bin Ali yang jatuh tanggal 10 Muharram dalam perang di Padang Karbala .  Kata Tabuik diambil dalam bahasa Arab  "tabut"  yang artinya peti kayu.

Tabuik adalah, sebuah benda yang berbentuk keranda bertingkat tiga yang terbuat dari kayu, bambu, dan rotan. Tabuik merupakan benda utama yang diarak secara bersama-sama ke tepi pantai untuk kemudian dibuang ke laut.

Badan Tabuik berbentuk kuda besar, menawan lebar, dan berkepala menyerupai perempuan cantik berambut panjang. Tabuik berjumlah dua buah dan diarak secara bersamaan. Di Pariaman, pantai tempat pembuangan tabuik berlokasi di pantai Gandoriah. Dilaksanakan secara turun-menurun setiap tahun yang jatuh pada 10 Muharam.

Setiap tahun, acara Tabuik selalu disaksikan puluhan ribu pengunjung dari berbagai pelosok. Tidak hanya Sumatera Barat, warga asing pun ikut menyaksikan upacara tersebut. Upacara ini merupakan upacara yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang, terutama warga lokal Pariaman dan sekitarnya.

Selain upacaranya yang bisa dikatakan unik, konon katanya mendapatkan bambu dari badan Tabuik dipercaya akan membawa rezeki tersendiri. Contohnya, yang jualan dagangannya akan laris dan cepat habis. Yang belom mendapatkan momongan akan segera mendapatkan momongan. Tapi lebih mustajab dalam bentuk usaha dagang.

Tak heran, jika banyak yang ikut mengarak Tabuik ketika dibuang ke pantai, Ini dilakukan dengan tujuan, berharap mendapatkan bambu dari salah satu badan Tabuik terlebih bagian kepala Tabuik. Kepala Tabuik sendiri dipercaya, sebagai awal kesejahteraan dalam hidup, dimana karir dan keinginan akan mudah terkabulkan. Selain itu, kepala Tabuik juga dipercaya sebagai penangkal sial dan dapat memberikan kehidupan yang lebih baik kedepannya.

Saya tidak tahu, apakah upacara Tabuik ini pada tahun-tahun yang akan datang tetap terselenggara atau tidak. Tapi, saya berharap Tabuik tetap ada sampai kapanpun mengingat upacara ini diadakannya secara turun-temurun. Saya berdoa agar Tabuik terjaga sehingga tidak hanya saya yang pernah merayakannya. Semoga teman-teman di bawah saya juga mengenali upacara adat Pariaman ini dan ikut bisa merayakannya.


Artikel ini telah diunggah di Klikwarta.com:

https://www.klikwarta.com/index.php/tabuik-upacara-unik-di-pariaman

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Tradisi Bangkawan, Pembangunan 'Rumah Tengkorak' Suku Dayak di Tanah Borneo

Rumah Adat Dayak (Foto: Folksofdayak)   Indonesia  merupakan negara yang kaya akan budaya dan suku bangsa. Salah satu suku yang ada di Indonesia adalah Suku Dayak. Suku Dayak merupakan suku asli Kalimantan yang memiliki beragam tradisi dan adat yang mungkin terkesan menyeramkan. Suku Dayak dikenal memiliki keunikan tersendiri. Salah satunya adalah tradisi membangun rumah tengkorak yang disebut dengan Bangkawan. Dikutip  Okezone  dari berbagai sumber, Bangkawan merupakan sebuah tradisi Suku Dayak. Tradisi atau kebiasaan ini tentu memiliki makna tersendiri bagi suku Dayak. Meskipun tradisi atau kebiasaan ini terkesan mengerikan nyatanya tidak semua suku Dayak menjalaninya. Tradisi ini hanya dijalani oleh suku Dayak Dusun yang berada di Kalimantan Utara. Setiap desa yang ada di Kalimantan Utara ini memiliki rumah kecil dan dibangun sebagai rumah Bangkawan yang diisi oleh tengkorak dari penduduk setempat. Konon katanya, rumah yang terbuka pada bagian depannya...

5 Gunung Cantik Dekat Bogor yang Jadi Incaran Pendaki, Mana Favoritmu?

Gunung Gede Pangrango (Foto: cianjurkab.go.id) BOGOR , Jawa Barat merupakan destinasi wisata favorit masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Pemandangan alam yang indah dengan nuansa pegunungan yang asri dan sejuk jadi salah satu daya pikat wisatawan menjadikan Bogor sebagai lokasi melepas penat.   Kawasan Bogor punya beberapa gunung cantik dengan keindahan yang memesona. Gunung-gunung tersebut juga jadi incaran pendaki. Berikut 5 gunung dekat Bogor. 1. Gunung Pangrango Pangrango merupakan gunung api setinggi 3.019 Meter di Atas Permukaan Laut (MDPL), tapi belum pernah meletus, sehingga puncaknya yang mendaki masih terlihat mulus. Puncak Mandalawangi jadi spot incaran pendaki. Selain lembah, di sekitar Pangrango juga terdapat beberapa objek wisata terkenal, seperti Telaga Biru dan Canopy Trail. Pangrango bisa dibilang masih sepaket dengan Gunung Gede, karena memiliki jalur pendakian yang sama untuk menuju puncak, yang membedakan hanyalah belokan di pertigaan. 2.Gunung Ged...

7 Hewan di Indonesia Paling Suka Begadang, Nomor 2 Dikenal Sangat Licik

Rakun, salah satu hewan yang paling suka begadang dan dikenal licik (Foto: iLUXimage/Shutterstock)   Beberapa   jenis mamalia atau unggas terkadang melakukan aktivitas pada malam hari. Spesies ini disebut dengan hewan nokturnal. Hewan nokturnal adalah hewan yang pada dasarnya melakukan aktifitas di malam hari. Berwujud predator dan mangsa, hewan ini memiliki ciri khusus seperti jari-jari yang sangat gesit, mata yang refleksi, dan kemampuan terbang tanpa suara.  Makhluk-makhluk ini tumbuh subur di habitat malam mereka, dan banyak dari mereka telah mengembangkan karakteristik khusus untuk unggul dalam bayangan. Hewan nokturnal menjadi sangat unik karena cenderung beraktivitas di malam hari dibandingkan siang hari. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya untuk menghindari predator yang memaksa mereka dan untuk menemukan makanan yang enak agar tidak bergaul dengan hewan lain. Indonesia sendiri termasuk negara yang memiliki satwa unik dengan jenis ini. Mengutip ...